2026-07-03 05:03:57
Legislator Maros Arie Anugrah Kritik Kenaikan Harga Pertamax, Sebut Pertalite Berpotensi Langka
Sumber : tribunnews.com
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.650 perliter menuai kritik.
Anggota DPRD Maros, Arie Anugrah, menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan sejumlah dampak di tengah masyarakat.
Salah satunya adalah kenaikan harga barang dan meningkatnya penggunaan BBM subsidi jenis Pertalite
Arie mengatakan, pengguna Pertamax memang tidak sebanyak pengguna Pertalite maupun solar.
Namun, kenaikan harga Pertamax tetap berpotensi memengaruhi kondisi pasar.
“Yang perlu diantisipasi sekarang adalah kenaikan harga barang. Meskipun pengguna Pertamax tidak sebanyak Pertalite dan solar, dampaknya pasti ada,” katanya kepada Tribun Timur, Kamis (11/6/2026).
Ia mengaku mendukung pembatasan pembelian Pertalite.
Legislator PAN Maros itu menuturkan Pertalite merupakan BBM subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak.
“Pertalite itu BBM subsidi. Ada masyarakat yang memang berhak menerima subsidi tersebut, sehingga saya rasa pembatasan yang dilakukan pemerintah sudah tepat,” ujarnya
Arie mengingatkan kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong masyarakat beralih ke Pertalite.
Jika tidak diatur dengan baik, subsidi justru bisa dinikmati kelompok masyarakat yang tidak berhak.
“Kalau pengguna Pertamax beralih ke Pertalite dan tidak ada pembatasan yang jelas, bisa jadi yang menikmati subsidi bukan lagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” katanya.
Ia menilai mayoritas pengguna Pertamax selama ini berasal dari kalangan menengah ke atas.
Karena itu, pemerintah harus memastikan distribusi Pertalite tetap tepat sasaran.
Arie menyebutkan selisih harga yang cukup jauh juga berpotensi memicu penyalahgunaan BBM subsidi.
Ia khawatir ada pihak yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk mencari keuntungan.
“Ini harus diawasi. Jangan sampai subsidi malah dijadikan lahan bisnis,” ujarnya.
Sementara itu, Arie menilai harga Pertamax yang kini mencapai Rp16.650 per liter terlalu tinggi.
Ia juga mempertanyakan waktu penerapan kebijakan tersebut.
Menurutnya, masyarakat masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi.
“Ada kebijakan efisiensi, tetapi di saat yang sama harga BBM naik cukup tinggi. Ini terasa kontradiktif,” katanya.
Ia menilai kondisi saat ini belum tepat untuk menaikkan harga BBM hingga sekitar 30 persen.
Arie juga mengingatkan potensi kelangkaan Pertalite.
Hal itu bisa terjadi jika banyak pengguna Pertamax beralih ke BBM subsidi.
“Kalau perpindahan pengguna tidak diatur dengan baik, antrean dan kelangkaan Pertalite bisa terjadi,” ujarnya.
Selain itu, Arie menyoroti minimnya sosialisasi pemerintah sebelum kebijakan diberlakukan.
Ia menilai pemerintah seharusnya lebih dulu menjelaskan alasan kenaikan harga kepada masyarakat.
“Pemerintah perlu memberikan edukasi dan penjelasan yang lebih masif. Ini bukan kebijakan kecil,” katanya.
Menurut Arie, masyarakat berhak mengetahui dasar pertimbangan pemerintah menaikkan harga Pertamax.
Ia juga menilai DPRD seharusnya dilibatkan dalam pembahasan kebijakan yang berdampak luas.
“Pemerintah sebaiknya berdiskusi lebih dulu dengan DPRD sebagai wakil rakyat,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap setiap kebijakan yang berdampak langsung terhadap masyarakat disertai langkah mitigasi dan solusi yang jelas.
“Jangan sampai pemerintah hanya melahirkan kebijakan, tetapi tidak menyiapkan solusi atas dampak yang muncul di tengah masyarakat,” tutupnya.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Legislator Maros Ari Anugrah Kritik Kenaikan Harga Pertamax , Sebut Pertalite Berpotensi Langka, https://makassar.tribunnews.com/maros/1840928/legislator-maros-ari-anugrah-kritik-kenaikan-harga-pertamax-sebut-pertalite-berpotensi-langka.
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Alfian
Anggota DPRD Maros, Arie Anugrah, menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan sejumlah dampak di tengah masyarakat.
Salah satunya adalah kenaikan harga barang dan meningkatnya penggunaan BBM subsidi jenis Pertalite
Arie mengatakan, pengguna Pertamax memang tidak sebanyak pengguna Pertalite maupun solar.
Namun, kenaikan harga Pertamax tetap berpotensi memengaruhi kondisi pasar.
“Yang perlu diantisipasi sekarang adalah kenaikan harga barang. Meskipun pengguna Pertamax tidak sebanyak Pertalite dan solar, dampaknya pasti ada,” katanya kepada Tribun Timur, Kamis (11/6/2026).
Ia mengaku mendukung pembatasan pembelian Pertalite.
Legislator PAN Maros itu menuturkan Pertalite merupakan BBM subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak.
“Pertalite itu BBM subsidi. Ada masyarakat yang memang berhak menerima subsidi tersebut, sehingga saya rasa pembatasan yang dilakukan pemerintah sudah tepat,” ujarnya
Arie mengingatkan kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong masyarakat beralih ke Pertalite.
Jika tidak diatur dengan baik, subsidi justru bisa dinikmati kelompok masyarakat yang tidak berhak.
“Kalau pengguna Pertamax beralih ke Pertalite dan tidak ada pembatasan yang jelas, bisa jadi yang menikmati subsidi bukan lagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” katanya.
Ia menilai mayoritas pengguna Pertamax selama ini berasal dari kalangan menengah ke atas.
Karena itu, pemerintah harus memastikan distribusi Pertalite tetap tepat sasaran.
Arie menyebutkan selisih harga yang cukup jauh juga berpotensi memicu penyalahgunaan BBM subsidi.
Ia khawatir ada pihak yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk mencari keuntungan.
“Ini harus diawasi. Jangan sampai subsidi malah dijadikan lahan bisnis,” ujarnya.
Sementara itu, Arie menilai harga Pertamax yang kini mencapai Rp16.650 per liter terlalu tinggi.
Ia juga mempertanyakan waktu penerapan kebijakan tersebut.
Menurutnya, masyarakat masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi.
“Ada kebijakan efisiensi, tetapi di saat yang sama harga BBM naik cukup tinggi. Ini terasa kontradiktif,” katanya.
Ia menilai kondisi saat ini belum tepat untuk menaikkan harga BBM hingga sekitar 30 persen.
Arie juga mengingatkan potensi kelangkaan Pertalite.
Hal itu bisa terjadi jika banyak pengguna Pertamax beralih ke BBM subsidi.
“Kalau perpindahan pengguna tidak diatur dengan baik, antrean dan kelangkaan Pertalite bisa terjadi,” ujarnya.
Selain itu, Arie menyoroti minimnya sosialisasi pemerintah sebelum kebijakan diberlakukan.
Ia menilai pemerintah seharusnya lebih dulu menjelaskan alasan kenaikan harga kepada masyarakat.
“Pemerintah perlu memberikan edukasi dan penjelasan yang lebih masif. Ini bukan kebijakan kecil,” katanya.
Menurut Arie, masyarakat berhak mengetahui dasar pertimbangan pemerintah menaikkan harga Pertamax.
Ia juga menilai DPRD seharusnya dilibatkan dalam pembahasan kebijakan yang berdampak luas.
“Pemerintah sebaiknya berdiskusi lebih dulu dengan DPRD sebagai wakil rakyat,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap setiap kebijakan yang berdampak langsung terhadap masyarakat disertai langkah mitigasi dan solusi yang jelas.
“Jangan sampai pemerintah hanya melahirkan kebijakan, tetapi tidak menyiapkan solusi atas dampak yang muncul di tengah masyarakat,” tutupnya.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Legislator Maros Ari Anugrah Kritik Kenaikan Harga Pertamax , Sebut Pertalite Berpotensi Langka, https://makassar.tribunnews.com/maros/1840928/legislator-maros-ari-anugrah-kritik-kenaikan-harga-pertamax-sebut-pertalite-berpotensi-langka.
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Alfian